Ia masih dingin tanpa ekspresi. Angin menerobos dari jendela. Bokep Montok Membuang napas. Terganggu wanita muda yang di ruang sebelah yang kadang-kadang tanpa tujuan jelas bolak-balik ke ruang pijat.Dari jarak yang begitu dekat ini, aku jelas melihat wajahnya. Ia tersenyum. Kantorku tidak lama lagi kelihatan di kelokan depan, kurang lebih 100 meter lagi. Wanita setengah baya itu merenggangkan bibirnya, ia terengah-engah, ia menikmati dengan mata terpejam.“Mbak Wien telepon..,” suara wanita muda dari ruang sebelah menyalak, seperti bel dalam pertarungan tinju.Mbak Wien merapihkan pakaiannya lalu pergi menjawab telepon.“Ngapaian sih di situ..?” katanya lagi seperti iri pada Wien.Aku mengambil pakaianku. Namun, tiba-tiba keberanianku hilang. Ah masa bodo. Jari tangan mulai dingin. Sudahlah. Ada cairan putih di celana dalamku.Di kantor, aku masih terbayang-bayang wanita yang di




















