Papa terlihat mencari-cari titik rawan di klitorisku dengan cara menekan-nekan klitorisku dari atas ke bawah. Kurasakan mukaku memerah dan spontan aku menutupi dadaku.“Ehem.. Bokep Mama Nina gak mau, Pa!” isakku sambil memberontak, namun tenaga Papa jauh lebih kuat daripadaku, tak ada gunanya aku melawan juga. Ketika aku masih terisak, Papa segera menghampiri dan memeluk diriku.“Tenang Nin, masih ada harapan kok,” hiburnya sambil mengelus rambutku.Aku balas mendekapnya dan mulai menangis tersedu-sedu. Kemudian kurasakan sensasi yang luar biasa nikmatnya tak lama kemudian.Vaginaku mengeluarkan cairan deras bening yang sebelumnya belum pernah kulihat.



