Itu yang kurasakan saat menatap wajahnya. Aku baru sadar, bahwa jarak antara wajahku dengan wajahnya hanya sekitar tiga puluh senti. Bokep Crot Lengannya terulur lagi, kali ini menarik zipper celanaku ke bawah. “Apa kerjamu tadi?”
“Di sebuah perusahaan distributor material bangunan.”
“Oh ya, aku lupa. Saat kutarik kepalaku sedikit ke belakang, ia tertawa. “Ahkk,” erangku. Aku memandangi jemarinya yang menyusup masuk dengan rasa senang yang aneh. “Tenang,” bisiknya. “Dingin kalau bisa.”
Saat aku kembali dengan dua gelas air dingin, kulihat ia sudah membuat dirinya nyaman di ujung sofa L. Segenap otot di tubuhku melemas. “Arrrgghh.” Aku sudah gelap mata. “Jangan ! “Letakkan tanganmu di sini,” bisiknya. Bagaimana aku tidak merasa lucu?” Aku ikut tertawa juga mendengar pemikirannya tentangku.




















