Dia semua yang meminta itu. Bokep Mom Yang tidak biasa adalah Syeni masih membiarkan kaosnya tersingkap. “Mungkin dokter ganteng dan baik hati” kata Nia, suster yang selama ini membantuku. “Syeni bilang, masih belum dapat giliran, nunggu 2 orang lagi” lanjutnya. Aku sadar kembali. Karena kondisi daerah dadanya yang menggelembung itu dengan sendirinya stetoskop itu “harus” menempel-nempel juga ke lereng-lereng bukitnya. Matanya mendadak terbuka, sekilas ada sinar kekecewaan. Sjeni memang ibu muda yang belum punya anak. Sambil masih berpelukan, Syeni menggeser tubuhnya menuju ke pembaringan pasien, menyandarkan pinggangnya pada tepian dipan, mata sipitnya tajam menatapku, menantang. “Kok BH-nya engga dipakai ?”
“Entar aja deh di rumah”
“Entar curiga lho, suamimu”
“Ah, dia pulangnya malem kok, tadi nelepon dari kantor”
Dia mengancing blousenya satu-persatu, baru memungut roknya.




















