Setiap gesekan memberi kami sensasi yang luar biasa dan tidak terbayang nikmatnya. Bokeb Habis sudah pertahananku. Sia-sia sudah semua jerih payah selama masa kuliah dulu. Aku sudah mau keluar …” Pak Kusrin pun memenuhi permintaanku. Mungkin aku sempat terlelap di atas meja batu itu, karena begitu aku tersadar tubuhku sudah tertutup kain batik. “Ya … Goyang terus, Wati …. Di sepanjang jalan, ada beberapa orang yang menoleh ke arahku ketika berpapasan. Tubuh kami sudah bermandi keringat. Sementara itu tangan Pak Kusrin terus bergerilya di setiap bagian tubuhku. Malu juga rasanya ditonton orang, walau hanya cuma beberapa kepala saja.kotol Pak Kusrin sudah begitu tegang dan keras. Aku merangkul dan membelai-belai punggung Pak Kusrin.




















