Langkahku semangat lagi. Garis setrikaannya masih terlihat. Bokep Montok Benarkan kesempatan itu lewat. Ia tidak melanjutkan kalimatnya.Aku tersenyum. Tetapi eh.., diam-diam ia mencuri pandang ke arah juniorku. Bodoh amat. Tapi kakiku saja yang seperti memagari tubuhnya. Badannya berbalik lalu melangkah. Bicara apa? Lalu dikocok-kocok sebentar. Aku makin membenamkan wajah di atas tulisan majalah.“Halo..!” suara itu mengagetkanku. Hap. Ah sial. Kadang-kadang ketimun. Aku kira aku sudah terlambat untuk bisa satu angkot dengannya. Ia tidak melanjutkan kalimatnya.Aku tersenyum. Hanya suara kebetan majalah yang kubuka cepat yang terdengar selebihnya musik lembut yang mengalun dari speaker yang ditanam di langit-langit ruangan.Langkah sepatu hak tinggi terdengar, pletak-pletok-pletok.




















