Sejenak Cinta berpikir. “Katanya mau buru-buru meeting?”. Bokep Mom Ucapan terakhir Om Ridwan membuatnya sedikit ragu. “Iya, sorry musti buru-buru”. Entah apa yang mendasari ia menjalani profesi ini. Diapitkan kembali kedua pahanya, lalu gadis cantik itu berdiri. Ia sama sekali tidak pernah memberitahukan nomor ini selain kepada pelanggannya. Ia berusaha memalingkan wajahnya, walaupun ia tahu kalau usahanya itu pastilah sia-sia belaka. Setelan itu jelas terlihat mahal. Sebuah hal yang biasa bagi Cinta, sehingga ia terlihat tidak terlalu terganggu karenanya.Cinta mengalihkannya pandangan dari layar smart phone yang dipegangnya. Hal ini dikarenakan, nomor ponsel ini hanya ia gunakan untuk menerima booking-an. Cinta hanya mengangguk. Kini kartu AS mereka berdua sudah saling terbuka. Mungkin ini bukanlah saat yang tepat untuk mencari tahu kebenarannya.“Eh napa lu?




















