Aku coba mengusapnya, seiring dengan
usapannya di pahaku. Suatu malam, setelah aku kelas tiga, setelah
hampir dua tahun di rumah Pak Rochim, aku sedang tidur dengan Kak Tina
di sebelahku. Bokep China Kak Tina
tetap tak sadar. Memandanginya. Aku memandangnya. Badanku
belumlah terlalu besar. Aku salah tingkah. Badanku
belumlah terlalu besar. Berpandangan. Dia tidak melarang. Sulit ya membacanya?”
Memang kami duduk berdampingan, dengan buku dipegang Kak Tina. “Atau…”, Kak Tina memandangku, lalu tersenyum lebar, “Kamu mimpi basah ya, Sapto?”. Baunyapun beda, seperti bau akasia. Dapat kurasakan kehangatan yang dihantarkannya. Kak Tina percaya. Mata Kak Tina mendelik-delik,
nafasnya terengah-engah. Aku terdiam terpaku. Rasanya nikmat, nikmat
sekali. Tempat tidurku terdengar berderak. Sapto! Dia tetap tenang. Tanpa sadar tanganku menggosok bagian kelaminku. Ini bacaan orang besar”. Hanya saja, rasanya
lengket.




















