“Namun apa nanti Mama dan Papa kamu tak marah, Lin?”, tanyaku masih tetap tak mengerti keinginannya.Lidya tak menyahuti, malah berdiri dan menarik tanganku. Namun Lidya malah menaruh hati padaku. Bokep Mama Kedua bola mataku sampai membeliak lebar. Dia malah tersenyum. “Mau apa ke kamar?”, tanyaku tak mengerti. Sementara perasaan hatiku semakin tak menentu. Karena sikap dan tingkah laku sehari-hariku masih, dan aku belum bisa bersikap atau berpikir secara dewasa.Tanpa diduga sama sekali, aku bertemu dgn Lidya. Namun nampaknya Lidya masih belum puas. Punya wajab cantik, kulit yg putih seperti kapas, badan yg ramping dan padat berisi serta dada yg membusung dgn ukuran cukup besar. Namun sama Sekali aku tak bisa apa-apa. Namun sama sekali aku tak merasakan apa-apa.Dan sikapku tetap dingin meskipun Lidya




















