Aku hanya tersenyum. Bokeb “Kamar 201 Mas”, katanya sambil menyorongkan kunci kamar. “suamimu?”, tanyaku. “Heh bukan gitu nanyanya”, kataku. Namun karena informasi yang dijejalkan oleh para senior mereka sangat padat, akhirnya banyak juga yang bertumbangan karena tergoda ingin mencoba lebih “menyelami” pekerjaan mereka sebagai pramugari. Masih ada dua rute lagi harus kami jalani untuk sampai ke pulau Tarakan. “Uh kelamaan ngobrol kapan akrabnya!”
“Kan nggak enak ngobrol di telepon…”
“Ke sini dong”
“Eh, ke kamar?”
“Iya”
“Waduh…”
“Kenapa.., takut?”
“Enggak.., gak enak aja kalo ketemu temen di lantai dua”
Aku diam sebentar, aku yakin Ana baru berpikir keras.




















